Sabtu, 25 Februari 2017

PERTEMUAN KE 4 : PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


Sebagian besar lembaga pendidikan di perkotaan sudah menerapkan sistem pembelajaran ICT (Information, Comunication and Technology). Akan tetapi dengan berkembangnya ICT memunculkan berbagai pembelajaran secara online atau web-school atau cyber-school yang menggunakan fasilitas internet mengundang banyak istilah dalam pembelajaran. Banyak definisi
tentang pembelajaran yang menggunakan internet, seperti, online learning, distance learning, web-based learning, e-learning (Luik, 2010).
Hal tersebut banyak membuat orang menjadi bingung dengan istilah-isitlah tersebut, akan tetapi Tsai dan Machado (2010) memberikan definisi berdasarkan pendekatan terminologi, “Our approach to defining these terms involves two complementary methods. The terminology is analyzed based on the individual meaning of the constituting terms, and the meaning of related concepts.” Berdasarkan hal tersebut, maka mereka memberikan definisi untuk masing-masing istilah di atas sebagai berikut:
1.      e-learning ,sebagian besar berkaiatan dengan kegiatan yang melibatkan komputer dan jaringan interaktif secara bersamaan. Artinya, komputer tidak perlu menjadi elemen pusat dalam kegiatan atau menyediakan isi pembelajaran, tetapi computer dan jaringan harus memegang keterlibatan besar dalam kegiatan pembelajaran;
2.      Online learning, dihubungkan dengan konten yang siap diakses pada komputer. Konten tersebut mungkin di Web atau internet, atau hanya diinstal pada CD-ROM atau hard disk computer;
3.      Distance learning, melibatkan interaksi pada jarak jauh antara instruktur dan peserta didik, dan memungkinkan reaksi instruktur tepat waktu pada peserta didik. Dengan cukup memposting atau menyiarkan materi pembelajaran untuk peserta didik bukan merupakan pembelajaran jarak jauh. Instruktur harus terlibat dalam menerima umpan balik dari peserta didik; dan
4.      web-based learning, dihubungkan dengan materi pembelajaran yang disampaikan dalam Web browser, termasuk ketika materi dikemas dalam CD-ROM atau media lain
(Munawar, 2011: 3-4).
Hujair AH. Sanaky (2009: 205) berpendapat bahwa terdapat banyak manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui e-learning apabila diaplikasikan di dalam lembaga pendidikan termasuk juga di perguruan tinggi, yaitu sebagai berikut:
1.      Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran peserta didik dan dosen.
2.      Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning.
3.      Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website e-learning yang mudah diakses dan dikembangkan oleh peserta didik dan mungkin juga masyarakat.
4.      Pengayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
5.      Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image.
6.      Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan peserta didik serta kualitas pelayanan.
7.      Interaktivitas peserta didik meningkat, karena tidak ada batasan waktu untuk belajar.
8.      Peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya (learner oriented).
Untuk mempermudah penggunaan e-learning, pembelajaran yang menggunakan e-learning difasilitasi secara online maupun offline. Untuk memfasilitasi e-learning dengan bantuan koneksi internet, dalam beberapa tahun terakhir, telah dikembangkan banyak aplikasi yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran. Aplikasi ini sering disebut dengan
Learning Management System (LMS). LMS ini mengintegrasikan banyak fungsi yang mendukung proses pembelajaran seperti memfasilitasi berbagai macam bentuk materi instruksional (teks, audio dan video), e-mail, chat, diskusi online, forum kuis dan penugasan. Beberapa contoh LMS adalah  Moodle, WebCT, Blackboard, Macromedia Breeze, dan Fronter. LMS sudah banyak diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan di dunia.
Selain itu, pemanfaatan dan penggunaan e-learning akan berhasil jika pengembangannya menggunakan pendekatan yang bisa menghasilkan produk e-learning yang berkualitas. Salah satu pendekatan perkembangan e-learning yang biasa digunakan oleh para pengembang adalah perspektif Alessi&Trollip. Nama panjang Alessi adalah Stephen M. Alessi. Dia dosen di
Universitas Lowa Amerika Serikat. Sedangkan nama panjang Trollip adalah Stanley R. Trollip. Dia dosen di Universitas Capella Amerika Serikat. Karya terkenal mereka dan banyak digunakan di perguruan tinggi di Indonesia terutama di Fakultas Teknologi Pembelajaran atau Pendidikan salah satunya adalalh Multimedia For Learning: Methods and Development
Pembelajaran dengan e-learning memungkinkan peserta didik belajar secara individual, kolaboratif, aktif, konstruktif, kontekstual, reflektif, multisensory, serta mengasah berpikir
tingkat tinggi, baik melalui aplikasi internet maupun intranet. Sedangkan prinsip-prinsip e-learning, Prakoso (2005:6-8) membaginya menjadi enam prinsip, yaitu:
1.      Pusat kegiatan peserta didik;
2.      Interaksi dalam group;
3.      Sistem administrasi siswa;
4.      Evaluasi;
5.      Perpustakan digital; dan
6.      Materi online.
Untuk mengidentifikasi apakah keenam prinsip tersebut telah terakomodasi dalam e-learning, (Clark, 2002: 1) menyarankan agar pengembang memperhatikan kebutuhan pengguna dan opini ahli (media maupun materi), dan banyak data dari berbagai sumber yang relevan.
Ditegaskannya pula, bahwa tidak seperti dalam pembelajaran di kelas, keberhasilan e-learning ditentukan oleh derajat kejelasannya (visibility) ketika dinikmati oleh pengguna diberbagai tempat. Visbility ini menyangkut aspek multimedia: warna layar, keakuratan antara isi dengan jenis latihan, serta detail-detailnya sehingga e-learning siap digunakan.
            Pengembangan e-learning tidak jauh berbeda dengan pengembangan media pembelajaran lainnya, yaitu merujuk salah satu teori pengembangan. Beberapa teori pengembangan Multi Media Interaktif (MMI) diperkenalkan oleh Robert Philips, Kemo, Leisly, Borg&Gall dan Alessi&Trollip. R&D merupakan metode pengembangan dan validasi suatu produk pendidikan, berupa penelitian analisis kebutuhan akan suatu produk, kemudian mengembangkannya, mengevaluasi produk melalui uji alpha (validasi ahli media dan ahli materi) dan uji beta (mahasiwa), dan tahap terakhir yaitu uji coba produk. Tiga atribut pengembangan berdasarkan model Alessi&Trollip dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Standard merupakan langkah awal atau pondasi dari sebuah proyek penelitian. Di dalamnya didefinisikan kualitas proyek yang direncanakan, sedangkan poin-poin diperhitungkan untuk menentukan kualitas dalam fase perencanaan (planning). Untuk melihat standar kualitas yang diinginkan dalam pengembangan produk ini, maka langkah yang dilakukan yaitu menentukan bidang/ruang lingkup batasan, mengidentifikasikan karakteristik pembelajar, menetapkan hambatan, mamperkirakan biaya, membuat dokumen perencanaan, memproduksi sebuah buku pedoman, menentukan dan mengumpulkan sumber-sumber, melakukan brainstroming, menetapkan rencana tampilan
2.      Ongoing evaluation yaitu evaluasi berkelanjutan dari tahap awal hingga akhir kegiatan dengan mengacu kepada standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua komponen dalam proyek harus diuji,  dievaluasi, dan jika perlu direvisi sebelum produk diimplementasikan. Di dalam proses ongoing evaluation ini, peneliti melibatkan ahli media (pengevaluasi media, ahli materi (pengevaluasi materi), peserta didik dengan kelompok kecil dan besar (menguji coba dan mengevaluasi produk).
3.      Project management yaitu berkaitan dengan pengaturan sumbersumber seperti uang, waktu, materi dan lain-lain. Bagian dari proses ini adalah perencanaan di awal proyek seperti pembuatan matriks kerja, monitoring kemajuan yang dicapai.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui e-learning, maka satu hal yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah apa yang menjadi tujuan belajar yang akan kita capai. Berdasarkan inilah kita akan dapat memilih topik, bahan-bahan belajar, lama belajar, biaya, dan sarana atau media pembelajaran yang sesuai (dalam hal ini yang difokuskan adalah media pembelajaran elektronik). Tujuan ini hendaknya bersifat spesifik dan terukur.
1.      Peserta didik, cara belajar dengan e-learning memberikan peluang untuk menjadi peserta didik yang bersifat independen. Jadi, untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari e-learning, kita hendaknya merasa senang dan termotivasi untuk belajar secara independen dan mengembangkan sikap positif terhadap kegiatan pembelajaran dan perluasan wawasan. Artinya, kita memliki motivasi untuk menguasai topik pelajaran, memperlakukan kegiatan belajar bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas diri, dan mampu menerapkan disiplin dalam kegiatan belajar.
2.      Dukungan, cara belajar melalui e-learning akan lebih mudah jika mendapat dukungan dari orang-orang yang terkait dengan peserta didik. Dengan dukungan dari berbagai pihak, semangat belajar yang terkadang turun dapat tetap dipertahankan, bahkan dipacu lebih tinggi.
3.      Media lain, e-learning hanyalah sebuah alat atau wahana yang dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Alat atau wahana ini jika digunakan bersama alat-alat lainnya akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan. Dengan demikian, e-learning tidak harus sepenuhnya digunakan secara murni, tetapi bisa diintegrasikan dengan penggunaan media lain sehingga saling menunjang meraih tujuan si pembelajar.
Perkembangan teknologi e-learning telah memberikan nuansa baru di dalam pendidikan kita. Jika waktu-waktu sebelumnya, secara konvensional guru melakukan proses pembelajaran dengan menghimpun siswa pada tempat atau ruangan tertentu secara bersamaan, kondisi tersebut kini telah diperkaya dengan berkembangnya perkembangan melalui jasa teknologi yang tidak lagi selalu mengharuskan peserta didik berkumpul secara bersamaan dan dibatasi oleh waktu dan tempat.
Kebutuhan akan adanya e-learning secara global akan selalu meningkat dari tahun ketahun karena e-learning dijadikan sebagai media alternatif dalam melaksanaklan pendidikan dan juga sebagai alat untuk mencapai pembentukan kompetensi yang kompetetif dalam dunia pendididikan, khususnya pendidikan sains. Munculnya e-learning berdampak besar pada dunia pendidikan. Pihak-pihak yang paling berperan utama dalam dunia pendidikan pun tidak luput dari dampak e-learning tersebut. Para pelajar merasakan sensasi belajar yang benar-benar berbeda dibandingkan kelas konvensional. Akses mereka terhadap informasi juga meningkat dengan drastis. Selain itu, para pelajar juga dapat memilih sendiri cara belajar yang dirasa paling cocok dengan kepribadian mereka ketika mengikuti kelas e-learning.
E-Learning sebagai sebuah wacana baru dirasakan lebih sesuai untuk peserta didik dengan karakteristik diatas, keterbatasan waktu keterbatasan tempat belajar, keterpisahan jarak secara geografis, dan keinginan peserta didik untuk belajar ditempatnya sendiri. Hal ini akan terpenuhi jika metode yang adalah e-Learning. Dengan demikian, e-learning telah memperbesar kesempatan bagi individu untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkannya sekaligus mempercepat terciptanya masyarakat yang yang berpengetahuan (knowledge-society).
Pengembangan penggunaan metode e-learning perlu dirancang secara cermat sesuai tujuan yang diinginkan. Jika kita setuju bahwa e-learning di dalamnya juga termasuk pembelajaran berbasis internet, perlu dipertimbangkan dalam pengembangan e-learning. Ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course.
1.      Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
2.      Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Fungsinya saling melengkapi. Dalam model ini pengajar dapat memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberikan arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet tersebut.
3.      Model web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas.
Tidak ada satupun model pembelajaran yang sempurna. Seperti halnya e-learning juga mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam penerapannya. Kelebihan dari e-learning antara lain:
1.      Mengurangi biaya, walaupun pada awal pemasangan infrastruktur e-learning yaitu jaringan internet agak mahal, tetapi selanjutnya akan mengurangi biaya akomodasi karena informasi didapatkan dari berbagai tempat tanpa harus datang ketempat tersebut.
2.      Pesan/ isi e-learning dapat tetap (konsisten), dan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
3.      Materi pembelajaran lebih up to date dan dapat diandalkan. E-learning yang berbasis internet (web) dapat memperbaharui materi secara cepat, sehingga membuat informasi lebih akurat dan berguna untuk jangka waktu tertentu.
4.      Pembelajaran 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Pendidik dan peserta didik dapat mengakses kapan saja dan dimana saja.
5.      Universal, setiap orang dapat melihat atau menerima materi yang sama dan dengan cara yang sama.
6.      Membangun komunitas, e-learning memungkinkan peserta didik maupun pendidik membangun sebuah komunitas yang berkelanjutan, untuk saling berbagi pengetahuan selama dan setelah pembelajaran.
7.      Daya tampung yang besar, e-learning tidak hanya dapat menampung 10 sampai 100 partisipan, tetapi juga dapat menampung ribuan partisipan.
Kelemahan dari e-learning lebih banyak dipengaruhi oleh faktor peserta didik dan pendidik. Kelemahan e-learning yang dirasakan oleh pendidik umumnya adalah memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan materi pembelajaran serta memperbaharui materi pembelajaran yang telah disajikan di dalam media elektronik. Adapun kelemahan e-learning dipandang dari segi peserta didik antara lain:
1.      Merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk model fully online e-learning format.
2.      Keterampilan menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
3.      Peserta didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
4.      Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa bimbingan pendidik.
5.      Adanya permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik di dalam mengikuti pembelajaran secara e-learnin


DAFTAR PUSTAKA
Anam, Nurul. Pengembangan Pembelajaran Berbasis E-Learning Perspektif Alessi&Trollip.
http://ejournal.kopertais4.or.id/index.php/qodiri/article/view/1570/1149
Clark, R. (2002). Six Principles of effective e-learning: what work and why. The e-learning
guild's learning solutions (e -Magazine).
Eka Prastya dan Didi Achjari. (2008). Pemanfaatan internet sebagai sarana pendukung
pendidikan di perguruan tinggi. Jurnal: Akuntasi dan Teknologi Informasi, Vol. 7, No. 1
Ekwensi, F., Moranski, J. & Townsend-Sweet, M. (2006). E-learning concepts and techniques:
(ch. 5th, instructional strategies for e-learning).  
http//www.iit.bloomu.edu/spring2006:e-Book_files/chapter5.htm.
Silahudin. (2015). Penerapan E-LEARNING dalam Inovasi Pendidikan. Jurnal Ilmiah CIRCUIT
Vol. 1 No. 1 Juli 2015.
Munawar, Duli Muhlis, Penerapan Model Blended Learning Untuk Meningkatkan Motivasi dan
Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika di SMA Cakra Buana Depok, Proposal
Tesis Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2011.           

27 komentar:

  1. bisakah anda memberikan contoh dari pernyataan berikut : Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image.

    BalasHapus
  2. Dapatkah anda menjelaskan mengenai " Distance learning" ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Distance learning, melibatkan interaksi pada jarak jauh antara instruktur dan peserta didik, dan memungkinkan reaksi instruktur tepat waktu pada peserta didik. Dengan cukup memposting atau menyiarkan materi pembelajaran untuk peserta didik bukan merupakan pembelajaran jarak jauh. Instruktur harus terlibat dalam menerima umpan balik dari peserta didik

      Hapus
  3. adakah dampak yang ditimbulkan bagi peserta didik dalam e-leaning ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Lebih mudah dilakukan pembelajaran dimana saja tetapi pastinya dengan akses internet yang lancar.
      2. murid akan lebih tertarik tetapi tidak menutup kemungkinan murid tidak tertarik

      Hapus
  4. apa saja masalah yang dapat terjadi di e-learning ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. akses internet yang paling penting, jika tidak ada maka tidak dapat berjalan dengan baik.

      Hapus
  5. menurut anda apakah pembelajaran e-learning ini selalu memiliki dampak yang baik? jika tidak berarti ada dampak negatifnya bukan, coba berikan apa dampak negatifnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk model fully online e-learning format.
      2. Keterampilan menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
      3. Peserta didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
      4. Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa bimbingan pendidik.
      5. Adanya permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik di dalam mengikuti pembelajaran secara e-learning

      Hapus
  6. Apa saja komponen dan strategi pembelajaran pengembangan model pembelajaran berbasis web??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran peserta didik dan dosen.
      2. Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning.
      3. Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website e-learning yang mudah diakses dan dikembangkan oleh peserta didik dan mungkin juga masyarakat.
      4. Pengayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
      5. Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image.
      6. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan peserta didik serta kualitas pelayanan.
      7. Interaktivitas peserta didik meningkat, karena tidak ada batasan waktu untuk belajar.
      8. Peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya (learner oriented).

      Hapus
  7. Apa saja kendala yang sering muncul dalam pengembangan e-learning dalam pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akses internet, karena kan tidak selalu akses internet berjalan dengan lancar sehingga dapat dikatakan merupakan komponen utama elearning

      Hapus
  8. menurut anda apakah pembelajran e-learning sudah efektif digunakan saat ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah namun pada tempat-tempat yang tidak memiliki akses internet yang maka elearning tidak dapat berjalan efektif

      Hapus
  9. apakah e-learning dapat diterapkan pada semua materi pelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak semua pembelajaran efektif dalam menggunakan media komputer. Banyak pembelajaran yang lebih efektif bila dilakukan secara kooperatif atau pun kolaboratif. Pada dasarnya E learning menggunakan meedia komputer untuk menyampaikan pembelajaran sedangkan salah satu teori belajar yaitu teori humanistik adalah memanusiakan manusia dan E learning kurang memanusiakan manusia.

      Hapus
  10. Bagaimana cara menanggulangi dari dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui e-learning?

    BalasHapus
  11. Apa saja kekurangan dari eleraning dalam pandang siswanya?

    BalasHapus
  12. " Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh." apakah sistem pembelajaran dengan menggunakan web course sdh diakui dan diizinkan oleh lembaga pendidikan indonesia?

    BalasHapus
  13. Beberapa kelemahan dari pembelajaran melaui e learning diantaranya :
    1. Kurangnya pemahaman guru terhadap kualitas murid dan kepribadian mereka karena jarangnya bertatap muka secara langsung.
    2. Siswa kurang mendapatkan motivasi untuk belajar karena instruktur (Guru) tidak mengetahui secara persis apa permintaan, ketertarikan dan motivasi siswa.
    3. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).
    4. Proses pembelajaran lebih cenderung ke arah pengajaran saja (transfer knowledge) daripada pendidikan.
    5. Para guru juga dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology), selain penguasaan teknik pembelajaran konvensional tentunya.
    Untuk mengatasi kekurangan tersebut maka guru juga harus mengadakan pembelajaran tatap muka.karena pembelajaran e- learning ini bukan berarti tidak ada tatap muka Disitulah peran seorang guru dimainkan yang mana guru memberikan motivasi kepada siswa menanamkan pendidikan karakter kepada siswa dan dengan adanya pertemuan maka guru juga bisa memantau tingkah laku siswa itu sendiri. Dan untuk fasilitas mungkin cukup sulit diatasi karena faktor ekonomi yang berbeda akan tetapi pembelajaran e learning di tingkat siswa ini biasanya diadakan jika memang fasilitasnya cukup. Saat ini bagi siswa yang tidak mempunyai fasilitas internet dirumah mungkin bisa dengan ke warnet. Lalu untuk mengatasi kekurangan yang terakhir guru bisa memanfaat teknologi internet yang sudah canggih. Dari situ ataupun dari buku guru bisa mendapatkan informasi sehingga dapat lebih menguasai teknik pembelajaran e- learning ini

    BalasHapus
  14. “Our approach to defining these terms involves two complementary methods. The terminology is analyzed based on the individual meaning of the constituting terms, and the meaning of related concepts.” bisa anda jelaskan inti dari pernyataan ini ? dan bagiaman siswa dan konsep relasi mempengaruhinya ?

    BalasHapus
  15. Kelemahan dari e-learning lebih banyak dipengaruhi oleh faktor peserta didik dan pendidik. Kelemahan e-learning yang dirasakan oleh pendidik umumnya adalah memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan materi pembelajaran serta memperbaharui materi pembelajaran yang telah disajikan di dalam media elektronik. adakah cara anda dalam menyelesaikan masalah ini?

    BalasHapus
  16. Apakah seluruh materi kimia dapat dijelaskan dengan baik dan tersampaikan dengan baik kepada peerta didik jika dijelaskan melalui e-learning?

    BalasHapus
  17. Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image, mohon dijelaskan.

    BalasHapus
  18. Pengayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.apakah e learning mengalami hal ini?

    BalasHapus
  19. menurut anda apakah pembelajaran e-learning ini selalu memiliki dampak yang baik? jika tidak berarti ada dampak negatifnya bukan, coba berikan apa dampak negatifnya?

    BalasHapus

TUGAS TERSTRUKTUR KE-6 DAN KE-7

1. Buatlah video pendek berdurasi tiga menit secara berkelompok tentang percobaan kimia untuk jenjang         SMA !  2. Buatlah alat perag...